BukpotRekap › Blog

Tata Cara Pembatalan Bukti Potong Unifikasi di Coretax DJP

Mengapa dan Kapan Bukti Potong Unifikasi Harus Dibatalkan?

Dalam dinamika operasional bisnis sehari-hari, kesalahan administrasi perpajakan maupun perubahan transaksi komersial kerap terjadi. Beberapa situasi umum yang mengharuskan Wajib Pajak melakukan pembatalan Bukti Pemotongan (Bupot) e-Bupot Unifikasi meliputi:

Di era Coretax DJP 2026, mekanisme pengelolaan bukti potong dilakukan secara terintegrasi dan real-time. Memahami perbedaan mendasar antara Pembetulan vs Pembatalan bukti potong serta implikasinya terhadap Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Unifikasi sangat penting agar status kepatuhan fiskal korporasi tetap terjaga dengan baik.


Perbedaan Krusial: Pembetulan vs Pembatalan Bukti Potong

Sebelum mengambil tindakan di sistem Coretax, pastikan Anda memilih mekanisme yang tepat sesuai ketentuan regulasi:

IndikatorPembetulan Bukti PotongPembatalan Bukti Potong
Kondisi KasusTerjadi kesalahan nominal nilai DPP, salah tarif, atau revisi nomor invoice/faktur pajakTransaksi batal total, salah NPWP/rekanan, atau salah skema pajak (misal PPh 23 vs PPh 21)
Nomor Bukti PotongNomor Bupot awal tetap sama, sistem menambahkan nomor versi pembetulan (Rev. 1, Rev. 2)Nomor Bupot tersebut dibatalkan permanen dan tidak dapat digunakan kembali
Nilai TransaksiMengubah nilai DPP dan PPh terutang menjadi angka yang benarSeluruh nilai DPP dan PPh terutang berubah menjadi Rp0 (Nol)
Dampak di Pihak PenerimaNilai kredit pajak penerima diperbarui sesuai nominal revisiBukti potong hilang dari daftar kredit pajak aktif pihak penerima
Prinsip Utama Coretax: Jika Anda hanya salah mengetik nilai DPP atau nomor dokumen dasar, gunakan menu Pembetulan. Namun, jika Anda salah memilih NPWP lawan transaksi, Bupot yang salah WAJIB Dibatalkan, lalu dibuatkan Bupot Baru untuk NPWP yang benar.

Syarat Formal Pembatalan Bukti Potong di Coretax DJP

Berdasarkan ketentuan kerangka regulasi pelaporan pajak elektronik e-Bupot Unifikasi di Coretax:

  1. SPT Masa Belum Dilakukan Pemeriksaan: Pembatalan bukti potong hanya dapat dilakukan sepanjang SPT Masa PPh Unifikasi masa pajak terkait belum dilakukan pemeriksaan bukti permulaan (bukper) secara terbuka atau pemeriksaan pajak oleh otoritas DJP.
  2. Dokumen Pendukung Pembatalan Transaksi: Perusahaan pemotong wajib menyimpan bukti pendukung yang sah (surat pembatalan kontrak, nota retur jasa, bukti pengembalian dana / refund, atau surat pernyataan bersama) untuk mengantisipasi permintaan klarifikasi (SP2DK) dari Account Representative (AR).
  3. Pemberitahuan kepada Pihak Dipotong: Pemotong wajib menginformasikan pembatalan tersebut kepada pihak penerima penghasilan agar pihak penerima tidak mengkreditkan Bupot yang telah dibatalkan dalam SPT Tahunan PPh Badan mereka.

Langkah-Langkah Teknis Pembatalan Bukti Potong di Coretax DJP

Berikut adalah alur operasional standar untuk membatalkan bukti potong unifikasi pada portal Coretax:

```

[Login Portal Coretax]

│

▼

[Menu e-Bupot Unifikasi] ──> [Daftar Bukti Pemotongan/Pemungutan]

│

▼

[Cari Dokumen via Nomor Bupot / NPWP Rekanan]

│

▼

[Pilih Aksi "Batalkan"] ──> [Isi Alasan Pembatalan Resmi]

│

▼

[Konfirmasi Tanda Tangan Elektronik / Passphrase Sertifikat Digital]

│

▼

[Status Bupot Berubah "DIBATALKAN" (Nilai Rp0)]

│

▼

[Buka Modul SPT Masa PPh Unifikasi] ──> [Buat SPT Pembetulan Masa Terkait]

```

Penjelasan Detail Langkah:

  1. Akses Modul e-Bupot: Masuk ke akun Wajib Pajak Badan di Coretax DJP, navigasikan ke menu Dokumen Perpajakan > Bukti Potong Unifikasi > Daftar Bupot.
  2. Identifikasi Dokumen: Gunakan filter pencarian berdasarkan Masa Pajak, Nomor Bukti Potong, atau NIK/NPWP lawan transaksi.
  3. Eksekusi Pembatalan: Klik tombol opsi pada baris dokumen yang bersangkutan, lalu pilih Batalkan Bukti Potong.
  4. Input Justifikasi: Masukkan alasan pembatalan pada kolom yang tersedia (misal: "Pembatalan SPK Kontrak Jasa No. XYZ tanggal DD/MM/YYYY").
  5. Otorisasi Digital: Masukkan passphrase sertifikat elektronik atau lakukan otentikasi biometrik/MFA penandatangan SPT yang berwenang.
  6. Verifikasi Status: Pastikan status dokumen berubah menjadi Dibatalkan dan total nilai PPh berubah menjadi Rp0.

Konsekuensi Pembatalan: SPT Pembetulan dan Penanganan Lebih Bayar (LB)

Setelah bukti potong berhasil dibatalkan, langkah krusial berikutnya adalah memperbarui SPT Masa PPh Unifikasi:

1. Munculnya Posisi Lebih Bayar (LB) pada SPT Pembetulan

Jika bukti potong yang dibatalkan tersebut sebelumnya telah dilaporkan dalam SPT Masa normal dan pajaknya sudah disetorkan ke kas negara:

2. Opsi Penyelesaian Lebih Bayar di Coretax

Wajib Pajak memiliki dua opsi resmi di sistem Coretax DJP:


Mitigasi Risiko: Mencegah Kesalahan Bupot dengan Rekonsiliasi Otomatis

Proses pembatalan bukti potong yang sering terjadi mencerminkan adanya celah dalam sistem kontrol internal rekonsiliasi antara tim finance (pembayaran invoice) dan tim tax (penerbitan bukti potong).

Untuk meminimalkan pembatalan bupot dan sengketa dengan vendor:

Dengan BukpotRekap, seluruh berkas PDF Bukti Potong e-Bupot Unifikasi dari Coretax DJP dapat dikonversi dan direkapitulasi secara otomatis ke dalam format Excel dalam hitungan detik. Data nomor bupot, tanggal terbit, identitas rekanan, DPP, dan nilai PPh dapat langsung disandingkan dengan buku besar (general ledger), sehingga kesalahan nomor atau duplikasi transaksi dapat terdeteksi sebelum timbul sengketa pajak.

Optimalkan efisiensi rekonsiliasi bukti potong perusahaan Anda hari ini di BukpotRekap Web App.

Artikel terkait

Tool yang relevan

Coba BukpotRekap gratis

Rekap bukti potong & faktur pajak otomatis, 100% lokal di browser: Ekstrak Bukti Potong · Ekstrak Faktur Pajak · 30 PDF Tools · Harga Pro